FAIQ's Archives & Edu-Blog …..

Sarana belajar dan berbagi dengan sesama

Fenomena Salinitas Air dalam Al Qur’an

Januari 30, 2012 by · 1 Comment · Arus, Gelombang, Lingkungan, Mekanika Fluida, Oseanografi, Sains, Teknik Pantai, Teknik Sipil

A. Pertemuan Dua Laut/Lautan (Air asin dan Air asin).

Fenomena alam yang terjadi di pertemuan laut Mediterania dengan Lautan Atlantik di selat Gibraltar (selat Jabal Thariq) telah direkamkan dalam Firman Allah [1], Q. S. Ar Rahman:

“Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tak dapat dilampaui oleh masing-masing.” (Q. S. 55:19-20).

Dalam firman-Nya tersebut Allah SWT menjelaskan bahwa meskipun kedua lautan tersebut sama-sama mengalir, berujud air dan sama-sama asin, tetapi antara keduanya tidak dapat bercampur satu sama lain seolah-olah ada batas yang tak akan terlampaui. Dalam penelitian modern bidang oseanografi ternyata membuktikan bahwa batas yang menghalangi kedua laut tersebut tak dapat bercampur adalah karena adanya perbedaan salinitas (kadar garam), densitas (kepadatan) dan suhu dari keduanya.

Laut Mediterania mempunyai suhu 11,5 derajat C, salinitas > 36,5 per mil, dan kepadatan yang tinggi. Sedangkan Lautan Atlantik memiliki suhu 10 derajat C, salinitas < 36 per mil, dengan kepadatan lebih rendah dari Laut Mediterania [2]. Dari ketiga sebab tersebut, yang paling dominan adalah karena salinitasnya. Karena itu batas tersebut, oleh para ilmuwan disebut sebagai HALOCLINE.

Halocline adalah layer/lapisan yang memisahkan air yang mempunyai salinitas yang berbeda [3]. Laut Mediterania (Laut Tengah) mempunyai salinitas, kepadatan air dan suhu yang lebih tinggi dibandingkan Lautan Atlantik. Seperti terlihat pada Gambar 1, ketika air dari Laut Tengah memasuki Lautan Atlantik melalui Selat Jibraltar, air tersebut mengalir beberapa ratus kilometer ke Samudera Atlantik di kedalaman sekitar 1000 meter dengan membawa sifatnya sendiri yang suhunya, salinitas dan kepadatannya yang lebih tinggi. Pada kedalaman ini air dari Laut Tengah tersebut diam tidak bergerak [2].

Gambar 1. Pertemuan Laut Tengah dengan Lautan Atlantik di selat Gibraltar [2].

 Yang menakjubkan dari fenomena ini seperti yang dituliskan dalam Al-Qur’an adalah kedua laut tersebut tidak akan bercampur atau melintasi batas ini,  meskipun terdapat ombak yang besar, arus yang kuat dan pasang,  …. Subhanallah.

Two salty seas boundary

B. Pertemuan Laut dan Sungai di Muara/Estuari (Air asin dan Air tawar).

Sedangkan fenomena bertemunya air sungai yang tawar dengan air laut yang asin di muara, difirmankan-Nya [1], dalam Q. S. Al Furqan: “Dan Dialah yang membiarkan dua laut yang mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi (Q. S. 25:53)

Dalam redaksionalnya, Allah menggunakan kata yang berbeda yaitu adanya dinding dan batas yang menghalangi. Ternyata ada sedikit perbedaan prinsip di zona pertemuan air laut dan air tawar ini bila dibandingkan dengan pertemuan dua lautan yang berbeda salinitasnya tersebut di atas.

Mengapa Al Qur’an menyebut “penghalang” ketika berbicara mengenai pemisah antara air tawar dan air asin, tetapi tidak menyebutkan hal itu ketika berbicara mengenai pemisah kedua air laut? Para ilmuwan oseanografi menjelaskan bahwa di muara, tempat bertemunya air tawar (segar) dengan air asin, ditemukan situasi yang berbeda dengan yang terdapat pada tempat bertemunya dua air laut. Penemuan menunjukkan bahwa yang memisahkan air tawar dari air laut di muara adalah zonaPYCNOCLINE yang ditandai oleh adanya perbedaan salinitas dan kepadatan yang bertahap dan jelas memisahkan kedua lapisan air tersebut [2]Pycnocline adalah layer/lapisan yang memisahkan air yang mempunyai kepadatan yang berbeda [4].

Penghalang (zona pemisah) ini memiliki tingkat kepadatan dan keasinan yang berbeda dari air tawar ke air laut dan sebaliknya. Seperti kita ketahui, bahwa air tawar bertemu air asin melalui beberapa tahapan perubahan, dari air tawar berubah payau hingga kemudian air laut yang asin. Hal ini dapat dijelaskan seperti pada Gambar 2.

Gambar 2. Perubahan salinitas pada penghalang (zona pemisah) antara air tawar dan air laut [2].

Secara ilmiah, proses pencampuran air tawar dan air asin di estuari/muara dikategorikan dalam empat tipe utama [5], yaitu:

  1. Estuari berstratifikasi tinggi (Highly stratified) atau estuari tipe baji garam (Salt wedge): estuari ini dicirikan oleh adanya batas yang jelas antara air tawar dan air asin , biasanya ditemukan di daerah di mana air tawar dari sungai yang besar lebih dominan daripada intrusi air laut yang dipengaruhi oleh pasang surut (Gambar 3).
  2. Estuari tercampur sebagian (Partially mixed): estuari yang paling umum dijumpai, di mana air tawar dari sungai seimbang dengan air laut yang masuk melalui pasang surut (Gambar 4).
  3. Estuari homogen vertikal homogen lateral (Vertical homogeneous with laterally homogeneous) atau estuari tercampur sempurna (Well mixed): estuari yang sempit, memiliki penampang lintang yang kecil dan tenaga pasang surut tinggi. Air tawar dan air laut tercampur sempurna dan pada muaranya umumnya sempit (Gambar 5).
  4. Estuari homogen vertikal tidak homogen lateral (Vertical homogeneous with laterally inhomogeneous) atau Fjord-type estuary: estuari yang lebar, memiliki penampang melintang yang kecil dan tenaga pasang surut yang tinggi. Estuari ditandai dengan cekungan dalam yang memanjang berbentuk U dan penghalang yang memisahkan cekungan dari laut. Pada estuari tipe ini, arus air tawar akan berkurang dan akan didominasi oleh pasang surut air laut (Gambar 6).

 

Gambar 3. Salt Wedge Estuary [5].

Gambar 4. Partially Mixed Estuary [5].

 

 

Gambar 5. Well Mixed Estuary [5].

 

 

Gambar 6. Fjord-Type Estuary [5]

Referensi:

[1] Al-Qur’anul Kariem.

[2] Ibrahim, I. A. (1997), A Brief Illustrated Guide To Understanding Islam, 2nd Ed., Publisher: Darussalam, Texas-USA.

[3] http://en.wikipedia.org/wiki/Halocline (29/01/2012).

[4] http://en.wikipedia.org/wiki/Pycnocline (29/01/2012).

[5] http://omp.gso.uri.edu/ompweb/doee/science/descript/esttype2.htm (29/01/2012).

ooooOOOOoooo

Tags: ··

Alhamdulillah, IGCES 2008 was held SUCCESSFULLY

Desember 25, 2008 by · No Comments · Conference, IGCES 2008, International, Sains, Teknologi

Sebagian peserta dan panitia bergambar bersama setelah acara penutupan IGCES.

*****

Providing a platform for discussions at IGCES

Skudai, December 23rd: An International Graduate Conference on Engineering and Science (IGCES) 2008 was held successfully at Lecture Hall 7, Block N24, Universiti Teknologi Malaysia, Skudai.

It was organized for the second time by School of Postgraduates Studies (SPS). The conference was formally known as Regional Postgraduates Conference on Engineering and Science.

The conference was officiated by the Vice Chancellor, Prof. Dato’ Ir. Dr Zaini Ujang. Also present were the Indonesian Education Attaché to Malaysia, Bapak Imran Hanafi, the Rector of Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Dr. Ir. Djoko Santoso, and the Head of ITB’s Research Management Centre, Prof. Ir. Nyoman Sutantra.

The IGCES 2008 main objectives are…..

IGCES-2008: International Conference in Johor, Malaysia

Juli 22, 2008 by · 3 Comments · Call for paper, Conference, IGCES 2008, International, Sains, Teknologi

CALL FOR PAPER:

Finding the frontier of knowledge in engineering and science faces significant challenges due to demand of rapid technology achievement and demand of globalization. The new technologies of engineering and science are nowadays moving at a tremendous pace by offering new feature and performance improvement in industries. Click for Details

This conference is proposed to become an annual event of academics, scientist, and engineers all over the world to present and to exchange much ideas and their progress in researches. In line with educational process, this technical conference is designed to promote tremendous researches, enhance the skill in paper writing and oral presentation.
All the excellent papers and experiences gained in this conference will be much valuable to increase the quality of research and technology achievement.

Actually this IGCES is the continued of RPCES (Regional Postgraduate Conference on Engineering and Science) in 2006. The scope of call for paper submission is for Master and PhD student or it graduant. Click for Details

DATE AND VENUE

The conference will be held during on 23-24 December 2008 at Persada Johor International Convention Centre, Johor Bahru, Malaysia Click for Details

oooOOOooo

Tags: ·······

PERGERAKAN SEDIMEN PANTAI

Mei 30, 2008 by · 6 Comments · Oseanografi, Teknik Pantai, Teknik Sipil, Transport sedimen

Didalam ilmu teknik pantai dikenal istilah pergerakan sedimen pantai atau transport sedimen pantai yang berasal dari istilah berbahasa Inggris: Coastal Sediment Transport ataupun Nearshore Sediment Transport. Bambang Triatmodjo (1999) menjelaskan bahwa definisi dari transpor sedimen pantai adalah gerakan sedimen di daerah pantai yang disebabkan oleh gelombang dan arus yang dibangkitkannya. (Baca artikel sebelumnya, di sini dan di sini)

Di kawasan pantai terdapat dua arah transport sedimen. Yang pertama adalah pergerakan sedimen tegak lurus pantai (cross-shore transport) atau boleh juga disebut dengan pergerakan sedimen menuju dan meninggalkan pantai (onshore-offshore transport). Yang kedua, pergerakan sedimen sepanjang pantai atau sejajar pantai yang biasa diistilahkan dengan longshore transport.

Menurut Bambang Triatmodjo……,

ARUS DI SEKITAR PANTAI (NEARSHORE CIRCULATION)

April 19, 2008 by · 8 Comments · Arus, Gelombang, Longshore Current, Oseanografi, Rip Current, Teknik Pantai, Teknik Sipil

Gelombang yang datang menuju pantai membawa massa air dan momentum, searah penjalaran gelombangnya. Hal ini menyebabkan terjadinya arus di sekitar kawasan pantai. Penjalaran gelombang menuju pantai akan melintasi daerah-daerah lepas pantai (offshore zone), daerah gelombang pecah (surf zone), dan daerah deburan ombak di pantai (swash zone). Diantara ketiga daerah tersebut, Bambang Triatmodojo (1999) menjelaskan bahwa karakteristik gelombang di daerah surf zone dan swash zone adalah yang paling penting di dalam analisis proses pantai.

ps17-13-landform.jpg

ps17-04.jpg

Daerah penjalaran gelombang menuju pantai

Menurut Dean dan Dalrymple…..